Berita Terbaru

Pendekatan Eklesiologis untuk Menyusun Tata Gereja

(Bahan Ceramah 3 Pdt Lazarus H. Purwanto, Th.D pada Sinode Distrik DKI Jakarta, 5 September 2013)

A.       MENYUSUN TATA GEREJA HARUS DIMULAI DENGAN MERUMUSKAN EKLESIOLOGI

 1.      TATA GEREJA DAN EKLESIOLOGI

 a.      Tata gereja didasarkan pada eklesiologi: sebuah tata gereja selalu dibangun di atas fondasi yang berupa suatu eklesiologi tertentu. Bahkan seorang ahli hukum gereja Belanda mengata­kan, bahwa tata gereja tidak lain adalah eklesiologi yang distrukturkan dan yang diterjemahkan (dijabarkan) dalam ben­tuk peraturan-per­aturan. Yang dimak-sudkan dengan eklesiologi di sini adalah rumusan teologis-sistematis mengenai pe-mahaman gereja tentang dirinya, yang pada ranah gerejawi berfungsi sebagai ru-musan pengakuan iman dari gereja itu mengenai “gereja”.

 b.      Dengan demikian, jika sebuah gereja bermaksud menyusun tata gerejanya, ia harus terlebih dulu merumuskan eklesiologinya. Harus dicatat, bahwa eklesiologi yang bersifat “satu-satunya” dan “berlaku universal dan kekal” pada hakikatnya tidak per­nah ada. Yang ada adalah —seperti sudah dikatakan di atas— suatu eklesiologi tertentu. Itu berarti, setiap gereja dalam konteks historisnya pasti mempunyai ekle­siologi­nya sendiri, baik dalam bentuk rumusan formal maupun tidak. Penyusunan sebuah tata gereja menuntut adanya rumusan eklesiologi yang bersifat formal dari gereja yang bersangkutan.

 Tiga catatan perlu dikemukakan di sini. Pertama, pendekatan dasar ini dengan demikian dapat disebut sebagai “pendekatan eklesiologis”, yang berbeda dari “pendekatan sistem penataan/pemerintahan (stelsel)”. Meskipun demikian, aspek sistem penataan/ peme-rintahan akan tetap menjadi faktor penting dalam pende-katan eklesiologis. Kedua, pen-dekatan dasar ini berlaku bukan hanya bagi gereja yang bermaksud menyusun tata gereja secara menyeluruh, namun juga bagi gereja yang ingin merevisi/memperbaiki tata gerejanya secara parsial. Berbagai kendala dapat muncul dalam upaya yang terakhir ini. Ketiga, yang dimaksudkan dengan “tata gereja” adalah semua perangkat peraturan ge-reja yang dimiliki gereja yang bersangkutan.

 c.       Mengingat hubungan tata gereja dan eklesiologi seperti di atas, rumusan-rumusan yang bersifat dasariah dari eklesiologi harus secara eksplisit dituang-kan di dalam dan menjadi bagian fondasional dari tata gereja. Tempat dalam tata gereja yang tepat untuk maksud ini adalah mukadimah. Namun demikian, mukadimah juga dapat memuat hal-hal lain yang dipandang pen­ting dan mendasar, misalnya latar-belakang historis dari gere­ja yang bersangkutan.

 2.      USAHA MENCARI EKLESIOLOGI YANG RELEVAN DI ASIA DAN INDONESIA

 a.      Pada tahun 1982, Christian Conference of Asia melalui Commis­sion on Theological Concerns-nya mengadakan sebuah konsultasi teologis mengenai eklesiologi. Hasil dari konsultasi dibuku­kan dengan judul Tradition and Innovation — A Search for A Relevant Ecclesiology in Asia. Konsultasi itu menyadari dua kenyataan penting di Asia. Pertama, ditinjau dari banyak segi, Asia sebagai tempat keberadaan gereja-gereja Asia ada­lah satu “kesatuan” yang sangat heterogen sifatnya. Kedua, keberadaan dari gereja-gereja Asia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari warisan teologi dan tradisi gerejawi yang diperoleh dari gereja-gereja “induk” di Barat, bahkan juga termasuk model-model kehi-dupan gerejawi, baik yang alkitabiah maupun yang bersumber pada sejarah gereja seca-ra umum. Berto­lak dari kenyataan-kenyataan ini, konsultasi memandang bahwa yang dapat disebut sebagai satu eklesiologi di Asia tidak lain adalah arah bersama (common direction) bagi gereja-gereja Asia dalam perjalanan mereka menemukan identitasnya dalam situasi kontemporer masing-masing. Arah bersama itu memuat beberapa ciri utama yang diharapkan dapat dipakai bersama oleh semua gereja untuk menyusun eklesiologi mereka sendiri-sendiri. Dari sini, konsultasi menyatakan bahwa suatu ekle­siologi di Asia harus berciri holistik, terbuka (open-ended), dan inklusif.

 b.      Dengan semangat yang kira-kira sama, Perhimpunan Sekolah-sekolah Theologia di Indonesia (Persetia) pada 1988 juga mengadakan satu study institute mengenai eklesio-logi, yang hasilnya dibukukan menjadi Himpunan Bahan Study Institute tentang Ekkle-siologia. Dalam rangka membantu upaya gereja-gereja mencari suatu eklesiologi yang relevan di Indonesia, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama, kon-sulta­si studi itu mena-warkan beberapa pikiran pokok, sebagai beri­kut:

1)     Gereja sebagai gereja dari/untuk rakyat/bangsa.

2)     Gereja sebagai gereja kaum miskin.

3)     Gereja bagi kaum wanita.

4)     Gereja yang sekaligus sebagai para-church.

5)     Gereja yang oikumenis.

6)     Gereja yang berinteraksi dengan penganut agama-agama lain.

7)     Gereja sebagai keluarga Allah (familia Dei).

8)     Gereja sebagai persekutuan diakonis.

9)     Gereja sebagai paguyuban sahabat-sahabat Allah.

 c.       Dalam upaya menyusun eklesiologi, kita sebaiknya meman­faatkan secara penuh temuan-temuan dari kedua konsultasi tersebut di atas, dengan memakai metode dan melalui proses yang kita tetapkan sendiri. Di samping itu, dalam kaitan ini penulis juga menawarkan sebuah pemikiran untuk dipertimbangkan sebagaimana yang tertuang dalam disertasi penulis, Indonesian Church Orders under Scrutiny (skema terlampir).

3.      BEBERAPA CATATAN METODOLOGIS

 a.      Yang harus dirumuskan adalah eklesiologi HKBP yang akan ber­fungsi sebagai fon-dasi dari Tata Gereja HKBP. Pertama-tama kita harus berpegang pada dua (2) prinsip dasar sebagai titik berangkat kita dalam upaya itu:

1)     Kita harus bertolak dari Firman Tuhan yang diperoleh dari suatu proses interpre-tasi dan refleksi alkitabiah yang tepat dan relevan.

2)     Kita harus mengakar secara kontekstual pada situasi Indo­nesia yang di dalam-nya HKBP berada. Termasuk dalam konteks ini kita harus mengkaji secara penuh la­tar­belakang historis dari HKBP secara umum dan khusus, dan sistem pena-taan/pemerintahan HKBP termasuk pada bagian ini.

Kedua prinsip dasar ini harus kita pegang secara serempak dan seimbang, karena ke-duanya tidak terpisahkan satu dari yang lain. Inilah yang disebut sebagai metode kontekstualisasi.

 b.      Kemudian, kita harus pula menetapkan suatu visi iman (yang lebih bersi­fat spiri-tual) dan sekaligus horison berpikir (yang lebih bersi­fat rasional-intelektual) agar kita tahu dalam batas-batas (“ruangan”) mana kita akan bergerak. Dalam hal ini saya meng­usulkan agar kita berpegang pada dua titik api dari dan yang membentuk sebu­ah elips:

1)     Titik api pertama adalah gerak ke dalam dari gereja (ge­rakan sentripetal): kesatuan ke dalam (entitas-eksklusivitas) dan kesatuan ke luar (ekumeni-sitas) yang dina­mis dan inklusif.

2)     Titik api kedua adalah gerak ke luar dari gereja (gerakan sentrifugal): fungsio-nalitas yang terbuka dan progresif.

 c.             Dengan titik berangkat dan visi/horison tersebut di atas, kita akan berefleksi dan menggarap rumusan-rumusan eklesiolo­gi HKBP lebih melalui “jalur” bibliko-sistema-tis. Dalam hal ini kita berhadapan dengan dua (2) pertanyaan dasariah. Yang pertama adalah pertanyaan mengenai relasi atau hubungan anta­ra gereja dengan Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Kristus dan yang bertindak melalui kuasa Roh Ku-dus. Yang kedua adalah pertanyaan mengenai relasi atau hubungan antara gereja dan dunia.

 d.            Dengan memakai metode kontekstualisasi, berpegang pada visi iman/horison ber-pikir, dan menjawab kedua pertanyaan itu seca­ra teologis dalam rumusan-rumusan sis-tematis, HKBP akan secara eksplisit menyatakan tentang pemahaman mendasar me-ngenai dirinya sendiri:

1)           Siapakah HKBP itu, dan

2)           Untuk apa HKBP berada (berkeberadaan) di dunia ini, atau dengan perkata-an lain, apakah misi atau tugas panggilan HKBP di dunia ini.

 4.      POKOK-POKOK YANG PERLU DIRUMUSKAN SECARA EKLESIOLOGIS

 a.      Kesatuan gereja

Yang menjadi pusat perhatian adalah kesatuan HKBP (ke dalam; partikular) dan hubu-ngannya dengan kesatuan gereja yang lebih luas (ke luar; universal); atau: kesa­tuan ge-reja yang lebih luas yang di dalamnya kesatuan HKBP adalah bagian yang tak terpisah-kan (integral).

 b.      Misi gereja.

Yang menjadi perhatian adalah pemahaman dasar mengenai misi HKBP dalam konteks ganda (“Indonesia” sebagai lapangan misi bersama dari gereja-gereja di Indonesia, dan “dunia” sebagai lapangan misi bersama yang lebih luas).

 c.       Gereja dan agama-agama

Pandangan dasar HKBP tentang agama-agama (lain) akan ikut menentukan konsep dan pelaksanaan misinya.

 d.      Gereja dan masyarakat, Injil dan kebudayaan/adat

Konsep tentang hubungan dan dinamika antara gereja dan masyarakat, demikian juga antara Injil dan kebudayaan/adat harus dikaji dan dirumuskan secara eklesiologis untuk memberikan kerangka yang lebih luas bagi keberadaan dan karya misioner HKBP.

 e.      Hubungan antara gereja dan negara

Dasar eklesiologis bagi hal ini harus dirumuskan, karena negara —dalam hal ini Repu-blik Indonesia— adalah tempat keberadaan HKBP dalam mewujudkan keberadaannya dan menjalankan misinya.

 f.       Hubungan warga gereja dan pejabat gerejawi.

Dari kerangka dasar tertentu, harus ditetapkan terlebih dulu posisi dan fungsi warga gereja, serta posisi dan fungsi pejabat gerejawi. Dari sini kita akan merumuskan hu-bungan di anta­ra keduanya. Rumusan-rumusan mengenai pokok ini akan menjadi fon-dasi untuk membangun struktur dasar organisasi HKBP, karena pada haki­katnya yang disebut struktur organisasi tidak lain adalah pengaturan hubungan antarperan/fungsi.

 g.      Pembangunan jemaat/gereja (gemeenteopbouw/kerkopbouw).

Dasar eklesiologis untuk pembangunan jemaat/gereja sangat penting untuk dirumus-kan, agar Tata Gereja HKBP secara keseluruhan akan memberikan dukungan struktural dan operasional bagi berlangsungnya proses perubahan dan pembaruan terus menerus yang melaluinya HKBP akan mewujudkan pemahaman dirinya (konsep jatidirinya) dalam kenyataan konkret.

 B.      BEBERAPA KOMPONEN POKOK YANG HARUS DIRUMUSKAN DALAM TATA DASAR

 1.      HAKIKAT DAN WUJUD

2.      PENGAKUAN IMAN

3.      MISI

4.      PEMBANGUNAN GEREJA/JEMAAT

5.      KEANGGOTAAN

6.      JABATAN GEREJAWI

7.      LEMBAGA KEPEMIMPINAN/ORGANISASI

8.           HARTA MILIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top